[big-reds] Liga Inggris di TV Lokal: Mustahil karena Mahal?
21 08 2007 From: big-reds@yahoogroup s.com [mailto:big-reds@yahoogroup s.com] On Behalf
Of Alois Wisnuhardana
Sent: Tuesday, August 21, 2007 11:50 AM
To: big-reds@yahoogroup s.com
Subject: [big-reds] Liga Inggris di TV Lokal: Mustahil karena Mahal?
Sumpah serapah para pecandu bola yang tidak bisa menyaksikan siaran langsung Liga Inggris tak hanya patut ditujukan ke ASTRO, tapi juga ke manusia semacam John Terry, Steven Gerrard, Cashley Cole, Wayne Rooney, Rio Ferdinand, hingga Theo Walcott. Karena merekalah tayangan dan tontonan itu jadi mahal. Kebiasaan dan gaya hidup Cheryl Tweedy-nya Cole, Coleen cLoughlin-nya Rooney, yang terang-terangan mengaku doyan belanja dan hidup dalam kemewahan, juga kaum WAGs (Wife and Girlfriends) yang lain, membuat setiap pesepakbola zaman sekarang ingin mendapatkan duit segunung demi membahagiakan pacar atau keluarganya.
Namun tak cuma wong-wong Inggris itu yang layak disumpahserapahi. Michael Ballack, Andriy Shevchenko, Didier Drogba, Cristiano Ronaldo, dan pemain non Britton lainnya juga layak mendapatkan. Karena invasi pemain non Inggrislah liga ini menjadi sangat mahal secara operasional, karena klub harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendatangkan dan menggaji
pemain-pemain asing yang merumput di Liga Inggris itu dengan lebih besar, jauh lebih besar
daripada pemain-pemain lokal kasta menengah.
Dari sisi jumlah pemain asing, pertumbuhan pesepakbola yang mengadu nasib di Inggris memang mencengangkan. Ketika diubah format dan namanya menjadi English Premier League pada tahun 1992, jumlah pemain asing non Inggris Raya (Scotish, Wales, Irlandia, masuk di golongan ini) yang merumput di Liga Inggris cuma cukup untuk membentuk sebuah kesebelasan tanpa pemain
cadangan alias cuma sebelas. Di antara sebelas itu, nama yang cukup populer adalah Eric Cantona dan David Ginola. Dalam lima belas tahun berikutnya,terjadilah pembalikan, di mana hampir separuh pemain di Liga Inggris adalah orang asing. Mereka berasal, dari seluruh kolong jagad, Asia, Australia, Afrika,Amerika Latin, dan Eropa sendiri. Bahkan perna terjadi klub yang pernah bermain tanpa seorang pun pemain berasal dari Inggris Raya, yakni Arsenal,
yang menurunkan seluruh legiun asingnya pada sebuah pertandingan diperayaan Valentine Day, 14 Februari 2005.
Akibat terus mahalnya biaya operasional, klub-klub itu lalu meminta jatah lebih banyak ke FA selaku penyelenggara resmi kompetisi, yang memang berhak atas berbagai pemasukan mulai dari tiket pertandingan, sponsorship, hingga tayangan televisi. Dengan kemasan yang luar biasa menarik, mulai dari slogan “The Greatest Show on Earth” Liga Inggris selalu menempati puncak program termahal dari siaran televisi. Pecandunya terus berkembang di seluruh dan Asia adalah kawasan yang paling menjanjikan. Tak heran klub-klub besar Eropa selalu menyempatkan diri melakukan tour ke Asia setiap musim kompetisi berakhir.
Namun yang paling gila dari seluruh biaya operasional itu, tentu saja lalu lintas pertukaran pemain. Persaingan yang ketat, rebutan pemain hebat,politicking yang dahsyat, membuat duit dalam jumlah besar berseliweran setiap bursa transfer dibuka. Sejak era Premiership, Manchester United adalah klub terbanyak yang memecahkan rekor transfer di Liga Inggris,
mulai dari kepindahan Roy Keane dari kampungnya Robinhood di Nottingham seharga 3,75 juta pound pada tahun 1993, menyusul Andy Cole dari Newcastle senilai 7 juta pound, Ruud van Nistelrooy dari PSV senilai 19 juta, Juan Sebastian Veron dari Lazio senilai 28,1 juta, dan terakhir Rio Ferdinand dari Leeds United senilai 29 juta. Semuanya dalam poundsterling, mata uang paling mengkilap sekolong jagad. Rekor termahal untuk transfer pemain ke Liga Inggris saat ini dipegang oleh Andriy Sheva sebesar 30 juta pound,meskipun ia tak terlalu berguna bagi sebuah tim.
Tim-tim sekarang, terutama tim besar, cenderung mencari pemain dengan harga mahal, sekalipun kalibernya masih diragukan. Adalah Chelsea dengan aktor utama Jose Mourinho yang membuat suasananya menjadi sedemikian overrated.Rafael Benitez merupakan antitesis dari apa yang dilakukan Jose, karena ia lebih mencari pemain yang menjawab kebutuhan tim, bukan pemain yang
sekadar berharga mahal. Misalnya saja ia lebih memburu Pennant ketimbang Simao Sabrosa sekalipun Rafa tetap memperlihatkan ketertarikannya pada Simao.Dalam konteks ini, pendekatan kepada pemain juga memegang kunci. Kasus Fernando Torres yang lebih memilih Liverpool ketimbang Chelsea atau MU yang menawarinya gaji lebih besar dan uang transfer lebih gede menunjukkan fakta ini.
Uang transfer yang beredar saat ini memang fantastis. Dibandingkan dengan era tahun 1970-1980-an, nilainya tak ada apa-apanya. Transfer pemain sekaliber Kenny Dalglish sebesar 440 ribu pound tak cukup untuk menggaji seorang Steven Gerrard selama sebulan karena gaji per pekannya mendekati 120 ribu pound. Bob Paisley yang saat itu membawa Dalglish ke Anfield untuk menggantikan Kevin Keegan yang pindah ke Hamburg tentu tidak bermaksud gagah-gagahan dengan pemecahan rekor transfer terhadap Kenny, karena ia cukup membayar 330 ribu pound untuk menggaet seorang Ian Rush. Bandingkan dengan transfer pemain sekarang, dengan kualitas seperti Darren Bent misalnya, yang dihargai 16 juta pound oleh Totenham Hotspurs. Nilai
transfernya lebih dari 48 kali nilai transfer seorang Ian Rush.
Liga Inggris adalah liga sepakbola termahal di dunia. Di dunia sport,tayangan ini secara bisnis menduduki peringkat keempat setelah American Football, American Baseball, dan bola basket NBA. Pendapatan klub-klub di Liga Primer bila ditotal mencapai 3,55 miliar dolar AS. Keuntungan setiap klub pun bisa dengan mudah dihitung karena loyalitas pendukung dan
penonton sepakbola lebih mudah dipastikan dibandingkan bisnis apapun. Tak heran,
Malcolm Glazer, duo Tom Hicks dan George Gillet dari Amerika tergiur dengan aroma wangi ini, sekalipun mereka sebelumnya memang sudah dikenal di dunia sport karena memiliki tim olah raga ternama di AS. Roman Abromovich dari Rusia juga demikian dan bahkan melakukannya terlebih dahulu. Thaksin Sinawatra dari Thailand merupakan orang terakhir non Inggris yang menguasai
klub Inggris yakni Manchester City, sementara seorang pengusaha Skandinavia sudah memiliki West Ham United semusim yang lalu.
Namun, kenapa Liga Primer lebih mahal ketimbang liga lainnya? Karena otoritas sepakbola FA, menjual hak siarnya kepada stasiun televisi secara borongan yakni sebanyak 380 pertandingan untuk satu musim. Uang dari hak siar yang berasal dari stasiun TV domestik dibagi menjadi tiga bagian. Separuhnya dibagi rata antara klub yang ikut kontes (20 klub), seperempat
diberikan sebagai hadiah berdasarkan klasemen akhir di mana klub juara mendapatkan hadiah 20 kali lebih banyak dibandingkan klub juru kunci, sedangkan seperempat sisanya digunakan untuk membayar fasilitas untuk sebuah pertandingan yang disiarkan di televisi. Sementara hak siar yang diperoleh dari stasiun televisi asing, seperti ASTRO, sepenuhnya dibagi rata untuk
20 klub yang ikut bertanding. Mau tahu uang yang dihasilkan dari hak siar TV asing ini? Untuk musim 2007-2008, nilainya mencapai 625 juta pound.Artinya,masing-masing klub mendapatkan jatah sekitar 31, 25 juta pound.
Ini berbeda dengan kebanyakan liga-liga Eropa lainnya seperti Serie A atau La Liga, di mana setiap klub menjual hak siarnya sendiri secara individual. Dengan pola hak siar individual, klub semacam Real Madrid atau Barcelona,atau Juventus, Milan, Inter, atau Roma, yang memiliki basis pendukung yang menyebar di seluruh antero dunia, bisa memperoleh hak siar yang lebih
tinggi ketimbang klub-klub gurem seperti Real Murcia dan Bilbao di Spanyo, atau Livorno dan Empoli di Italia misalnya.
Dengan pola hak siar LIGA INGGRIS seperti itu, jelaslah harganya menjadi sangat mahal. Apalagi untuk ukuran Indonesia. Namun, Anda yang sekarang bisa menikmati tayangan bola dari Astro TV, sadarlah bahwa dengan menonton TV itu, Anda yang Liverpudlians, punya hak untuk memiliki Fernando Torres karena siapa tahu duit pembeliannya diambilkan dari uang hak siar tadi.
Anda yang gila MU, musti mengajak kawan lain berlangganan Astro karena duit 31,25 juta pound itu tidak cukup untuk membiayai pembelian Hargreaves, Nani, dan Tevez.
Begitulah bola. Bisnis yang menggiurkan, tontonan yang memabukkan. Hanya ada menang kalah dalam bola. Namun di antara keduanya ada warna-warni kehidupan,yang terlalu sayang untuk dilewatkan.
Salam hangat dari Palmerah









yah.. diatas itu emang kenyataan…
no offense,
tapi sampe kapanpun gw gak akan langganan astro
pokoknya “GANYANG MALINGSIA !!!”
sorry but it’s true, ASTRO-Nusantara itu anak perusahaan ASTRO ALL ASIA NETWORK PLC, Malaysia a.k.a MALINGSIA (http://www.astroplc.com/05/corporate/board_directors/)
btw, salah satu stasiun swasta ada koq yang nyiarin EPL dari ArsenalTV, dan itu gak selalu pertandingan Arsenal.
nonton EPL emang hobby, tapi nasionalisme harus ada.
ini cuma komen, terserah pandangan yang lain.
thx..